Lebih dari Pijat Refleksi, gunanya.

     Beberapa minggu kemarin, kamis saya begitu padat dengan persiapan untuk praktik teknik wawancara di kampus. Bukan hanya hari saya saja, tapi tas saya yang penuh dengan baju dan sepatu rapi,  juga otak saya yang penuh dengan ekspektasi dan harapan bahwa ini semua akan berjalan dengan lancar tidak seperti jalanan jakarta yang tersendat di setiap hari. Minggu pertama merupakan praktik dengan setting Psikologi Industri dan Organisasi. Di minggu pertama saya masih sangat merasa gugup, maklum pertama kali melakukan wawancara sangat formal dan harus berpura-pura menjadi HRD yang baik serta menyenangkan. Selain kegugupan, pada praktik pertama ini saya juga merasa saya masih banyak melihat tuntunan wawancara yang ada, saya terlalu fokus dengan subyek sehingga lupa untuk mencatat kata kunci, dan yang paling menyebalkan adalah saya terbiasa untuk mewawancara menggunakan closed question yang secara tidak langsung dapat mengarahkan subyek dalam menjawab. Tapi si luar itu semua, saya beruntung memeiliki teman yang begitu kooperatif dan benar-benar dapat mengembangkan jawaban-jawabannya dengan baik.

Tibalah saya di minggu kedua dengan setting Psikologi Pendidikan. lancarnya minggu pertama membuat saya memiliki ekspektasi yang lebih bahwa minggu kedua ini akan menjadi lebih baik karena saya telah mengetahui letak kurang saya dan ini bukan pertama kalinya saya praktik. Dan akhirnya harapan saya perlahan luntur layaknya baju baru murah yang luntur saat pertama kali dicuci. Jawaban yang saya harapkan tidak sesuai dengan jawaban subyek saya. Jadi, skenario yang telah dengan apik saya ketik di dalam kepala saya tiba-tiba buyar karena subyek saya begitu berimprovisasi dengan baiknya…. jadi kelompok saya memilih kasus bahwa ada seorang anak yang ketahuan merokok dan akhirnya murid ini menjadi seorang perokok aktif di sekolah. Dan ternyata subyek saya begitu kreatifnya hingga dia menjawab bahwa dia hanya sekali merokok dan tidak merokok lagi. Pada saat itu saya langsung memutar pikiran saya mencari celah mana yang dapat saya gali infonya lagi karena semuanya sudah tidak sesuai dengan tuntunan wawancara. Saat minggu kedua ini walaupun saya merasa lebih sulit, namun saya berhasil melewatinya dengan lebih baik karena saya berhasil mengurangi kesalahan saya di minggu pertama. Namun di dalam praktik ini saya terkadang masih merasa bingung dengan apa yang harus saya tanyakan lagi sehingga terkadang pikiran saya harus memecah konsentrasi antara memperhatikan dan mendengarkan subyek dengan mencari apa yang harus ditanyakan.

     Setting klinis merupakan setting terakhir yang harus saya lewati dalam praktik teknik wawancara. Setting ini meerupakan minggu dengan setting yang paling saya suka. Bukan karena saya menyukai psikologi klinis, namun karena saya merasa bahwa saya sangat siap dengan praktik kali ini. Saya berusaha mungkin tidak berpaku pada tuntunan wawancara, tidak tegang, dan berusaha menguasai kasus mengenai bulimia nervosa. Saat saya melakukan wawancara, subyek yang saya wawancarai sangat menyenangkan. Dia berhasil mengembangkan semua jawaban sesuai harapan saya, bahkan lebih. Saya benar-benar merasa dapat menangani kegugupan saya saat minggu ketiga ini. Namun masalah saya masih sama, begitu sulit membagi konsentrasi saya dalam memperhatikan pernyataan kubyek dengan memikirkan pertanyaan apa lagi yang harus saya keluarkan kembali agar info yang saya dapatkan lebih banyak dan wawancara berhenti setelah 10 menit.

     Diantara praktik yang saya lakukan di kampus, saya juga melakukan praktik wawancara di sebuah panti werdha yang berada di daerah Jelambar. Nah, ini lebih membuat gugup dan takut karena teman-teman yang sudah duluan praktik dari kelas lain mengatakan bahwa sulit mendapat subjek yang dapat diajak bekerja sama. Dengan modal pertanyaan dan recorder di tangan, sesampainya disana saya segera mendatangi seorang nenek yang sedang asik membuat keset dan memang nampaknya Tuhan dan semestaNya begitu mendukung saya untuk berkembang, nenek ini begitu ramah dan dapat diajak wawancara tanpa rintangan yang membuat saya bingung. Saya mewawancarainya dengan cukup baik, begitu banyak ilmu yang diberikan Bu Henny dan Ka Tasya yang dapat saya terapkan waktu itu. Subyek juga bukan merupakan orang yang sulit digali informasinya. Namun memang saya harus mengucapkan beberapa closed question agar dia dapat lebih mengerti dengan pertanyaan yang saya lontarkan. Akan tetapi sayangnya, karena tangan saya sibuk memegang recorder dan tuntunan wawancara saya tidak dapat mengobservasi subyek terlalu banyak dan tidak dapat mencatat kata kunci yang diucapkan subyek. Saya hanya dapat mengingat sebagian besar di dalam otak saya.

Namun, beberapa minggu kemudian saat saya ingin mulai mengolah semua karya saya menjadi tulisan. Rekaman yang saya sayangitersebut menghilang. Rasanya seperti digigit semut tapi tidak hanya satu semut namun banyak, banyak sekali. Namun saya tidak mau menyerah disitu dan kalah sama keadaan. Jadi besoknya saya langsung kembali menuju ke Jelambar mencoba akan mewawancarai subyek saya kembali. Sesampainya disana, ternyata panti di Jelambar kosong dan sudah dipindahkan ke Cengkareng untuk sementara waktu. Jadi saya segera menuju kesana dan sesampainya disana saya izin dengan petugas lalu saya mencari subyek saya. Saya begitu berterima kasih dengan subyek saya ini, karena dia begitu dapat diajak bekerja sama dan dengan senang hati dapat membantu saya lagi. Dia bersedia untuk diwawancarai dan mengerti dengan permasalahan saya. Nah didalam wawancara kali ini, bina rapor yang telah terjalin baik di wawancara sebelumnya telah terjalin disini jadi saya tidak perlu repot banyak berbicara mengenai kata pendahuluan dan menjalankan proses wawancara dengan baik. Walaupun pembicaraan kami dipotong oleh waktu solat dan teman-temannya, subyek tetap dapat menjawab dengan baik meskipun setelah solat dia terlihat mulai tidak fokus dengan proses wawancara. Sementara dari saya, saya merasa tidak memiliki kegugupan berarti namun saya harus melatih untuk dapat membagi konsentrasi saya antara mencatat kata kunci, mengobservasi, dan okus dalam mendengarkan jawaban-jawaban subyek. Karena tangan saya yang harus memegang recorder dan tuntunan wawancarapun mengharuskan saya hanya mengingat hasil observasi yang saya lakukan.

Dari semua badai yang saya lalui untuk teknik wawancara, saya merasa bahwa ilmu ini sangat amat berguna sekali bagi kelangsungan hidup dan proses adaptasi saya di dunia psikologi dan sehari-hari. Saya merasa bahwa ilmu ini yang harus dipegang dengan sangat baik dan diterapkan lebih dari sangat baik di kehidupan. Untuk dosennya, dari beliau saya belajar bagaimana hidup yang disiplin dapat membantu saya menjadi lebih baik. Kalau saya tidak salah hitung, teknik wawancara merupakan mata kuliah pertama yang selalu saya hadiri tanpa adanya absen atau sakit. Karena pelajaran ini selalu menarik bergitu juga pengalaman dari Bu Henny yang bermacam-macam jenisnya sehingga dapat memperluas pengetahuan saya mengenai dunia psikologi. Terima kasih Ibu untuk kesediannya membagi ilmu dengan saya. Semoga saya dapat bertemu Ibu di mata kuliah lain ya Bu 🙂 

Advertisements
Lebih dari Pijat Refleksi, gunanya.

their social story

Pada tulisan kali ini, saya akan membagi apa yang telah saya pelajari dari kelas teknik wawancara yang saya ikuti pada kamis minggu lalu. Kelas kemarin membahas tentang social history yang perlu diketahui oleh seorang pewawancara khususnya di bidang psikologi. Lalu sebenarnya apa sih social history itu? Apakah social history itu begitu berpengaruh terhadap berjalannya proses wawancara? Nah, daripada terlalu banyak pertanyaan yang keluar di kepala, mari kita bahas lebih lanjut mengenai social history ini.

Social history merupakan riwayat hidup dari seorang klien atau orang yang ingin diwawancarai — interviewee. Dari social history ini seorang psikolog biasanya dapat mengetahui bagaimana masalah yang dialami oleh klien tersebut dapat timbul dan berkembang. Dari sini seorang psikolog bisa tau faktor lingkungan dan bawaan apa saja yang mempengaruhi masalah yang dihadapi klien tersebut. seorang psikolog perlu mengetahui hal tersebut karena faktor yang mempengaruhi tiap orang akan berbeda. Dari faktor yang diketahui tersebut, psikolog dapat melihat juga bagaimanakah peoblem solving yang telah dilakukan oleh klien tersebut. apakah problem solving yang digunakan sudah sesuai atau malah sama sekali tidak sesuai.  Semua yang klien ceritakan ini lebih dari sekedar fakta, tapi merupakan cerita klien yang didalamnya banyak hal yang dapat berbeda dari fakta pada umumnya. Tujuan dari social history ini adalah untuk mengumpulkan informasi dari klien yang dapat menjadi sebuah kumpulan data yang menjelaskan lebih dalam mengenai konsep dari masalah yang dialami oleh klien tersebut. selain itu, dari sesi social history ini seorang psikolog juga dapat lebih memahami bagaimana persepsi dan sudut pandang klien mengenai masalah yang dihadapinya tersebut. dengan pahamnya pandangan satu sama lain, tentu saja ini dapat membantu psikolog membina rapport secara baik dengan klien tersebut.

Nah, dalam social history ini terdapat beberapa area yang harus digali lebih dalam oleh seorang interviewer:

  1. Family of origin
  2. Extended family
  3. Present family constellation
  4. Educational level attained
  5. Occupational training/ job history
  6. Marital (significant other) history
  7. Interpersonal relationship history/ Social network
  8. Recreational preferences/ Leisure activities
  9. Sexual history
  10. Medical history – including significant family medical history
  11. Psychiatric/ psychotherapy history
  12. Legal history
  13. Alcohol and substance abuse
  14. Nicotine and caffeine consumption
  15. Current living situation
  16. Source of support
  17. Religion

Disini saya akan membahas beberapa diantaranya dan menjabarkan sedikit mengenai alasan kenapa area-area ini perlu digali lebih dalam….

  1. Family of Origin

Keluarga menjadi tempat pertama dimana seseorang mendapatkan pelajaran mengenai dirinya dan hidupnya. Dan tentu saja keluarga merupakan suatu aspek kehidupan yang tidak dapat dihilangkan. Penting bagi seorang pewawancara untuk dapat mengetahui apakah ada masalah di dalam keluarga yang menjadi salah satu hal pendukung pembentukan masalah yang diderita oleh klien saat ini. Yang biasanya perlu ditanyakan adalah dimana ia dilahirkan dan berasal darimana, kemudian juga ditanyakan bagaimana pola komunikasinya di keluarganya, masalah yang biasanya timbul di rumahnya, norma yang berlaku di keluarganya, dan dengan siapa ia tinggal dirumahnya saat ini. Dengan mengumpulkan info mengenai family history klien, pewawancara jadi dapat mengetahui bagaimana hubungan klien dengan anggota keluarganya yang lain, bagimana silsilah keluarganya, dan apakah ada keluarganya yang memiliki penyakit mental di keluarganya. Biasanya seorang psikolog akan membuat genogram atau sejenis pohon keluarga untuk merangkum semua info mengenai family history dari klien.

 2. Educational History

Sekolah merupakan tempat kedua seorang individu mengetahui dan mendapat pelajaran tentang hidupnya. Sekolah juga menjadi tempat pertama seseorang berkomunikasi intensif dengan orang lain.  Sekolah juga menjadi tempat seorang mengembangkan kepribadiannya. Pertanyaan yang biasa dilontarkan mengenai educational history adalah mengenai prestasi akademik dia waktu di sekolah, persepsi mengenai sekolah dan prestasinya, dan tentu saja tentang hubungan sosial yang dijalin di sekolahnya. Akademik ini perlu digali lebih dalam karena terkadang prestasi akademik tidak menjamin seseorang memiliki kehidupan yang tidak bermasalah. Sementara mengenai bagaimana seseorang menjalin hubungan sosial di sekolahnya dapat berkaitan dengan bagaimana keberhasilan seseorang menjalin hubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Biasanya orang-orang yang berhasil menjalin hubungan pertemanan yang baik, nantinya akan lebih mudah dalam bersosialisasi.

 3. Occupational History

Pada bagian ini, pewawancara akan menanyakan mengenai pekerjaan yang dijalani oleh klien. Akan lebih baik jika pewawancara tidak mengenakan kata pekerjaan, tetapi menanyakan mengenai kesibukan yang sedang dijalani oleh klien. Indikator yang baik untuk mengetahui apakah klien bermasalah dengan pekerjaannya adalah lewat job history yang dimiliki oleh klien. Hal yang biasa ditanyakan oleh pewawancara adalah mengenai riwatyat kerjanya, sudah mengikuti training apa saja, dan yang terpenting adalah apakah pekerjaan yang dijalani oleh klien sudah sesuai dengan passionnya atau belum.

 4. Marital History

Seorang pewawancara harus mengetahui bagaimana status dari kliennya. Apakah dia singele, sudah menikah, bercerai, atau lainnya. Namun topik ini sedikit sensitif untuk dibicarakan, jadi sebisa mungkin saa menanyakan mengenai hal ini pewawancara sudah memiliki rapport yang baik dengan kliennya. Dalam bertanya mengenai marital history ini, pewawancara juga harus mempertanyakan secara spesifik mengenai bagaimana status klien dan pandangan klien mengenai status dia saat ini.

 5. Interpersonal Relationship

Dari hal ini, pewawancara dapat mengetahui bagaimana caara kliennya membangun sebuah hubungan dan bagaimana hubungan klien dengan orang-orang di sekitarnya saat ini. Dari situ nantinya omongan klien juga akan berkembang mengenai bahgaimana teman-temannya dan lingkungan lainnya merespon dia selama ini.

 6. Recreational Preference

Hal ini lebih berfokus kepada bagaimana klien menghabiskan waktu luangnya selama ini. Banyak orang yang sulit ubtuk mendapatkan kesenangan di dalam kehidupnya, dan hidupnya menjadi tidak seimbang. Tapi ada juga yang kebalikannya dan cenderung menimbulkan “childlike” behavior atau suatu sikap yang masih kekanak-kanakan. Orang-orang yang sulit merasa senang akan berujung pada ketergantungan alkohol dan obat-obatan.

7. Sexual History

Seperti halnya marital history, topik mengenai sexual history juga menjadi hal yang sensitif untuk dibicarakan. Selain telah membina rapport yang baik, pewawancara juga harus memilih pertanyaan yang tepat. Pertanyaan mengenai sexual history dapat dimulai dengan bagaimana ketertarikan klien dalam menjadi pelaku seksual yang aktif. Dari situ hal yang ditanyakan dapat berkembang menjadi : Isexual preferences, sexual practices, sexual functioning, sexual problems, sexual orientation, sexually transmitted disease, sexual abuse, dan lain-lain.

 8. Psychiatric/ psychotherapy history

Penting adanya pewawancara mengetahui apakah klien pernah mendapatkan terapi psikologis atau belum. Jika pewawancara telah mengetahuinya, pewawancara dapat mennggali lebih dalam mengenai kecenderungan apakah kliennya mengalami masalah serupa seperti sebelumnya.

 9. Legal history

Dalam hal ini pewawancara harus menggali informasi apakah klien pernah mengalami permasalahan dalam bidang hukum. Karena biasanya orang yang mengalami permasalahan dalam bidang hukum memiliki kecenderungan memiliki penyakit psikopatologi.

 10. Alcohol and substance use/abuse & nicotine or caffeine consumption

Pertanyaan yang biasanya dikemukakan adalah minuman favorit klien. Dari situ seorang pewawancara dapat mengarahkan pertanyaan apakah dia rutin mengonsumsi minuman tersebut dan mengalami ketergantungan atau tidak.

 

Penerapan social history ditiap individu tentu saja berbeda satu sama lain, berikut merupakan daftar social history yang biasanya ditanyakan pada anak dan dewasa.

1. Dewasa:

  • Work history
  • Legal history
  • Religion
  • Current living situation
  • Social network
  • Marital status
  • Recreational preferences/ leisure activities
  • Medical history
  • Personality traits and disorder
  • Family history

 2. Anak: 

  • Childhood Nuclear Family
  • Growing Up
  • Asking about Abuse
  • Childhood Health
  • Education
  • Medical history
  • Personality traits and disorder
  • Family history

Ternyata banyak ya yang perlu digali informasinya agar kita menjadi pewawancara yang baik. Begitu pula juga banyak yang perlu kita pelajari. Semoga tulisan saya ini menjadi salah satu yang dapat memberi pelajaran bagi teman-teman yang membaca. Jangan berhenti belajar, karena semesta selalu memberi pelajaran di tiap hembus nafasnya. Selamat menanti pelajaran selanjutnya 🙂

their social story

Do you want to be a great interviewer? Read this first!

Hemm….teknik wawancara. Dalam dua tulisan sebelumnya, saya telahmembahas sebenernya bagaimana teknik wawancara itu di dalam bidang psikologi. Nah, kali ini saya akan membahas mengenai keterampilan apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi pewawancara yang baik. Mengetahui dan menerapkan hal ini sangat penting adanya untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam menjadi seorang pewawancara. Kemudian sebenarnya apa saja sih kemampuan yang harus dikembangkan untuk menjadi pewawancara yang baik? Berikut saya jelaskan sedikit pengetahuan mengenai keterampilan yang wajib dikembangkan oleh pewawancara.

1. Kemampuan membina rapport

Eits, jangan kira disini rapport itu laporan seperti waktu kita sekolah yaa. Rapport dalam konteks wawancara merupakan hubungan pewawancara dengan subyeknya. Sebagai seorang yang akan berusaha menggali informasi dari subyek, tentu saja subyek harus terlebih dahulu merasa nyaman baru akan tumbuh rasa percaya untuk saling berbagi cerita kepada pewawancara. Nah, pewawancara harus membangun kondisi nyaman ini agar subyek merasa tidak keberatan jika harus menceritakan semua masalah yang dialaminya. Agar kemampuan membina rapport dapat berkembang dengan baik, tentu saja pewawancara harus memahami karakteristik dan latar belakang subyeknya. Selain itu, pewawancara juga harus menjadi pendengar yang baik tanpa terkesan ingin tahu segalanya mengenai subyek. Hal yang terpenting adalah, jangan menyerah untuk dapat membina rapport yang baik dengan subyek karena setiap orang memiliki waktu untuk menjadi terbuka yang berbeda. Jadi harus banyak bersabar dan tetap bersikap ramah dan hangat agar subyek merasa memiliki kedekatan dengan pewawancara.

2. Empati

Empati, tidak harus ikut tertawa terbahak-bahak saat subyek merasa senang atau menangis meraung-raung saat subyek merasa sedih. Empati yang sangat berarti bagi subyek adalah saat pewawancara dapat memposisikan dirinya ke dalam posisi subyek. Pewawancara tidak boleh menanggapi dengan hanya dengan berpikir dari sudut pandangnya, tapi juga harus melihat bagaimana sudut pandang subyek. Pewawancara sebisa mungkin mencoba berpikir bagaimana jika “memakai sepatu” yang sama persis dengan subyek. Dengan hal ini, pewawancara dapat lebih mengerti bagaimana rasanya dan tau bagaimana seharusnya subyek menghadapi masalahnya. Kalaupun pewawancara masih belum dapat mengerti bagaimana rasanya berada di posisi subyek, setidaknya pewawancara dapat mengatakan bahwa pewawancara berusaha mengerti bagaimana perasaan subyeknya.

3. Attending Behavior

Attending behavior, merupakan hal yang patut untuk dilatih dari sedini mungkin. Karena pada zaman yang serba modern ini, sering sekali yang dekat terasa jauh dan yang jauh terasa dekat. Kemampuan attendig behavior merupakan kemampuan untuk menyimak apa yang disampaikan oleh subyek. Sebagai pewawancara, kita harus benar-benar menyimak apa yang dibicarakan oleh subyek. Selain agar kita ingat dan dapat menjadikannya data, attending behavior juga diperlukan agar pewawancara dapat membina rapport secara baik dengan subyeknya. Subyek datang ke psikologi tentu saja karena ingin merasa didengar, lalu jika pewawancara cenderung sibuk sendiri atau tidak menyimak…bisa bayangkan kan seberapa kesalnya si subyek? Attending behavior ini terdiri dari empat dimensi yaitu, eye contact, kualitas suara –nada dan kecepatan suara, tujuan pembicaraan, dan body language.

4. Teknik bertanya

Teknik bertanya dibagi menjadi dua, yaitu open question dan close question. Open question merupakan jenis pertanyaan yang mempersilahkan subyeknya untuk menjawab sesuka hati. Jadi jenis pertanyaan ini membebaskan subyek untuk menjawab tanpa ada arahan dari pewawancara. Sementara closed question merupakan teknik bertanya yang biasanya hanya perlu dijawab menggunakan kata iya dan tidak. Jadinya pertanyaan ini cenderung mengarahkan subyek ke dalam jawaban tertentu. Ada beberapa kesalahan riskan yang benar-benar harus dihindari dan diperhatikan oleh pewawancara, yaitu menjadi intrusif, cenderung terlihat menginterogasi subyek, mengontrol eksplorasi subyek, menggunakan kata ‘kenapa’, dan bertujuan untuk memuaskan rasa ingin tahu wawancara. Kelima hal tersebut harus sepenuh tenaga dihindari oleh pewawancara agar proses wawancara menjadi lebih efektif.

5. Observation Skills

Teknik wawancara tidak dapat berdiri sendiri. kemampuan observasi merupakan pasangan sehidup semati dari teknik wawancara. Secara tidak disadari, saat mewawancarai subyek biasanya pewawancara juga mengobservasi si subyek. Kemampuan observasi ini fokus kepada tiga area, yaitu,verbal, nonverbal, dan inkongruensi. Pewawancara harus dapat memperhatikan kata kunci dari subyek, kata yang diberi penekanan, dan pewawancara harus dapat lebih memerhatikan pembicaraan yang diinginkan pewawancara sendiri. sementara area nonverbal mencakup bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan menghindari stereotype dari penampilan dan latar belakang. Yang terakhir adalah ingkongruensi, yaitu kesesuaian apa yang diucapkan dengan bagaimana nonverbalnya. Hal ini dapat menjadi pendukung untuk mengetahui apakah subyek jujur atau tidak. Jika tidak, pewawancara sebisa mungkin harus mengetahui apa yang membuat subyek tidak jujur, apakah itu dari faktor subyek yang belum dapat jujur atau faktor lain.

6. Active Listening Skill

Sebagai pewawancara, selain lima kemampuan di atas, pewawancara juga harus memiliki kemampuan yang baik dalam mendengarkan subyek. Mendengarkan disini juga termasuk dalam memberi respon kepada subyek. Banyak hal yang harus sangat diperhatikan untuk mengembangkan kemampuan mendengarkan ini, seperti, memberi dorongan secara nonverbal dan verbal, jangan melakukan paroting (mengulang perkataan subyek) secara berlebihan, atau bertanya terlalu spesifik saat mewawancarai. Kemampuan mendengarkan ini juga berperan sangat penting dalam pembinaan rapport yang baik dengan subyek.

Keenam hal itu merupakan kemampuan yang sangat penting untuk dikembangkan sebagai pewawancara yang baik. Nah, mumpung masih memiliki waktu untuk belajar….yuk, kembangkan kemampuan kita agar nantinya kita dapat menjadi pewawancara yang baik. Semoga hal yang saya bagi dalam tulisan ini dapat berguna bagi teman-teman pembaca. Don’t stop to dream and learn, guys ❤

Do you want to be a great interviewer? Read this first!

Teknik Wawancara dalam Psikologi Industri & Organisasi dan Psikologi Pendidikan.

Mata kuliah teknik wawancara yang dilaksanakan pada hari kamis tanggal 7 Maret 2013, kembali membahas teknik wawancara di dalam ranah psikologi. Kali ini teknik wawancara yang dipresentasikan merupakan penerapan teknik wawancara di dalam bidang psikologi pendidikan dan psikologi industri organisasi. Pada tulisan saya kali ini, saya akan membahas sedikit tentang rangkuman yang saya dapat dari teman-teman kelompok lain yang mempresentasikannnya di dalam kelas. Berikut merupakan rangkumannya.

1. Pengertian Wawancara

     Hampir di semua bidang di psikologi, mengatakan bahwa teknik wawancara merupakan salah satu teknik yang sering digunakan untuk menggali informasi yang ingin diketahui. Sebagai pewawancara, seseorang berhak mengetahui apa yang ingin diketahuinya sesuai dengan konteks wawancara tersebut. Dalam proses wawancara ini, pewawancara juga berhak menggali informasi sejelas apa yang pewawancara tersebut inginkan. Di dalam kehidupan sehari-hari wawancara mungkin sering kita lakukan juga untuk lebih menggali informasi yang kita butuhkan. Namun di dalam ranah psikologi ataupun sehari-hari, pewawancara harus memiliki batas-batas tertentu sesuai kode etik atau norma yang berlaku di dalam kehidupan sehari-hari.

 2. Aplikasi Wawancara

     Psikologi Industri dan Organisasi menerapkan teknik wawancara untuk merekrut karyawan baru. Biasanya teknik wawancara dilaksanakan setelah subyek melewati seleksi CV dan psikotes yang diberikan oleh perusahaan. Jadi, dalam pengaplikasiannya dalam ranah Industri, teknik wawancara menjadi perbandingan dengan psikotes yang dilaksanakan. Semenara itu, dalam bidang Psikologi Pendidikan, teknik wawancara digunakan dalam proses rekruitmen dan konseling. Tidak terlalu banyak sekolah yang menggunakan teknik wawancara dalam proses rekruitmen siswa barunya. Kebanyakan sekolah menggunakan teknik wawancara dalam proses konseling. Banyak guru-guru BK yang menggunakan teknik wawancara untuk menggali informasi mengenai siswa yang memiliki masalah tersendiri, seperti pelanggaran terhadap tata tertib. Menurut saya, pengaplikasian teknik wawancara dalam ranah PIO sangat diperlukan agar perusahaan tidak hanya terpaku pada psikotes atau CV yang mungkin tidak sesuai. Jadi, melalui teknik wawancara tersebut beserta observasi yang baik dapat menjadi perbandingan penting dalam merekrut seseorang. Begitu juga dalam pendidikan, guru BK menjadi lebih mengerti muridnya serta lebih dapat menangkap bagaimana perilaku muridnya secara obyektif, tanpa pengaruh dari orang-orang disekitarnya.

3. Kelebihan dan kekurangan Teknik Wawancara

     Teknik wawancara merupakan sebuah teknik yang penting dalam ranah Industri. Untuk merekrut karyawan baru, setiap perusahaan pasti mengadakan teknik wawancara sebelum memperkerjakan seseorang. Karena dalam melakukan teknik wawancara, pewawancara dapat juga langsung mengobservasi calon pegawai baru tersebut. jadi, pewawancara dapat membaca bahasa tubuh calon pegawai baru tersebut jikalau dia berbohong. Dari jawabannya juga dapat terlihat jika dia cukup berpotensi atau tidak dalam bekerja.     Dalam bidang pendidikan sendiri, wawancara memiliki kelebihan karena pewawancara dapat menggali info sejelas dan sedalam mungkin untuk mendapatkan data yang diinginkan. Karena wawancara bersifat langsung, jadi pewawancara dapat langsung menanyakan sesuatu yang belum cukup dimengerti. Akan tetapi, terkadang ada beberapa siswa yang sulit untuk menceritakan apa yang terjadi pada dirinya karena siswa tersebut takut rahasianya tidak dapat dijaga dengan baik oleh guru Bknya. Selain itu, ada juga siswa yang berpura-pura menjadi baik. Jadi, dia selalu menceritakan hal-hal yang baik saja tanpa menceritakan hal-hal yang kurang baik. Kelebihan dan kekurangan dalam teknik wawancara ini melengkapi satu sama lain. Karena itu biasanya teknik wawancara tidak berdiri sendiri. minimal teknik wawancara didampingi dengan observasi yang baik pula.

4. Masalah Teknik Wawancara

     Masalah yang muncul dalam penggunaan teknik wawancara dalam bidang Industri adalah adanya hallo effect atau lebih menilai ke penampilan calon pegawai baru yang akan diwawancarai. Kemungkinan karena penampilan rapinya, banyak pewawancara yang terkecoh dan menilai bahwa orang yang lebih rapi memiliki kinerja dan ide yang lebih baik. Ternyata sewaktu diwawancarai fakta tidak berkata demikian. Sementara dalam bidang pendidikan masalah yang biasanya muncul adalah siswa yang berpura-pura baik dan kecemasan siswa untuk bercerita dengan guru BK. Biasanya seorang calon siswa akan berpura-pura baik saat diwawancara, sementara ada juga siswa yang selalu cemas jika diwawancarai oleh guru BK karena guru BK selalu berhubungan dengan bagaimana guru menangani masalah. Semua masalah ini memang sering terjadi, tapi seharusnya seorang pewawancara dapat mengatasinya dengan observasi yang baik dan pertanyaan yang lebih mendalam.

 5. Penanganan masalah dalam Teknik wawancara

     Para pewawancara memiliki caranya tersendiri dalam menangani masalah yang ditemui saat proses wawancara. Pewawancara dalam bidang industri biasanya melakukan crosscheck atau pengecekan ulang dengan membandingkan hasil wawancara dengan CV dan hasil tes yang dilakukan oleh subyek. Sementara dalam bidang pendidikan, biasanya guru BK harus mendekatkan diri dengan siswanya dengan tidak menjadi terlalu kaku dan dapat berteman dengan para siswanya tanpa melupakan bagaimana bersikap sebagai seorang guru. Lalu dengan calon siswa yang berpura-pura baik saat proses wawancara berlangsung, seorang pewawancara harus dapat memberi pertanyaan yang lebih spesifik agar terlihat bagaimana jawaban calon siswa tersebut. menurut saya, selain cara yang ada tentu saja teknik wawancara juga harus berdiri bersama observasi yang baik dan jika dibutuhkan dapat dilaksanakan psikotes.

 

Teknik Wawancara dalam Psikologi Industri & Organisasi dan Psikologi Pendidikan.

Review Teknik Wawancara Psikologi Klinis Anak dan Dewasa

Pada kelas teknik wawancara tanggal 28 Februari 2013, ada beberapa kelompok dari kelas C yang mempresentasikan mengenai Teknik Wawancara di bidang Psikologi Klinis Anak dan Dewasa.  Kelompok 1 dan 2 membahas Klinis dewasa serta 3 dan 4 membahas tentang klinis anak. Dari presentasi yang disampaikan oleh keempat kelompok tersebut ada beberapa kesimpulan yang dapat dirangkum. Saya akan membahas apa sajakah kesimpulan yang saya dapat pada presentasi tersebut.

  1. Pengertian Wawancara

Dari semua kelompok dapat disimpulkan bahwa wawancara merupakan suatu modal bagi lulusan psikologi agar dapat lebih menggali informasi dari subyek yang kita wawancara. Dalam bidang klinis anak ataupun dewasa, teknik wawancara memiliki pengertian dan tujuan yang sama. Yang membedakan dari kedua bidang tersebut adalah jika klinis dewasa seorang bisa langsung mewawancarai subyek, sementara dalam bidang klinis anak seorang psikolog dapat mewawancarai orang di sekitar anak tersebut terlebih dahulu sebelum mewawancarai subyek.

 

  1. Aplikasi wawancara

Dalam bidang klinis anak ataupun dewasa, biasanya wawancara sering digunakan dari awal sesi hingga akhir sesi berlangsung. Wawancara menjadi modal yang penting dalam bidang ini karena psikolog harus mengetahui informasi-informasi yang dibutuhkan untuk menangani kasus subyek. Namun psikolog tidak hanya menggunakan wawancara saja, psikolog juga harus mengobservasi subyek saat diwawancara dan jika perlu psikolog akan memberikan tes-tes psikologi.

 

  1. Kelebihan dan kekurangan wawancara

Seperti pada dasarnya teknik lain, teknik wawancara memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Kelebihan dari teknik wawancara dalam bidan klinis dewasa dan anak adalah prosesnya lebih cepat dibandingkan dengan teknik lain untuk mendapatkan data karena pewawancara dapat langsung menanyakan informasi yang diinginkan, jika kurang jelas dapat bertanya lagi dan lagi. Subyek dapat langsung menjawab atau bercerita terlebih dahulu saat diberi oleh pertanyaan, kerena itu wawancara bersifat fleksibel. Akan tetapi, jika dalam klinis dewasa terkadang terdapat subyek yang berpura-pura menjadi baik atau menjadi bias saat diwawancara. Sementara pada bidang klinis anak terdapat anak-anak yang sangat sulit diajak berbicara, karena itu biasanya seorang psikolog klinis anak harus lebih sabar dalam menghadapi suyeknya.

 

  1. Masalah wawancara

Seperti yang sudah saya tuliskan di bagian kelebihan dan kekurangan wawancara, terdapat beberapa kekurangan wawancara yang menjadi maslah dalam bidang klinis anak dan dewasa. Jika dalam klinis dewasa, masalah yang biasa dialami adalah informasi yang didapat terkadang idak jujur. Banyak subyek yang terkadang berpura-pura menjadi baik karena malu menceritakan kisahnya sendiri. sementara dalam bidang klinis anak, maslah yang dihadapi biasanya anak bersikap kurang terbuka dan kurang dapat diajak bekerja sama.

 

  1. Penanganan masalah dalam wawancara

Lalu bagaimana biasanya psikolog menangani masalah-masalah tersebut? pada klinis dewasa biasanya seorang psikolog harus benar-benar teliti dalam mengobservasi subyeknya. Selain itu, seorang psikolog harus memperluas wawasannya agar tidak diremehkan oleh pasiennya.  Sementara dalam bidang klinis anak, seorang psikolog biasanya menangani masalahnya dengan mengobservasi lingkungannya. Seorang psikolog anak juga terkadang harus mewawancra orang-orang terdekat dari anak tersebut seperti orangtua, saudara, guru, atau pengasuhnya. Cara penanganan lain yang dapat ditempuh adalah dengan teknik pendamping dan pendukung (dapat dikatakan seperti wawancara yang tidak langsung). Seperti mungkin dapat menggunakan gambar, play doll dan lain-lain. Sehingga data tetap akan terkumpul, baik cepat atau lambat atau dengan cara/teknik yang berbeda.

Review Teknik Wawancara Psikologi Klinis Anak dan Dewasa